Kalau kita bicara soal ayam goreng, bakso, atau mie ayam, apa yang tersirat dalam pikiran Anda?
MAKANAN.
Satu kata yang dapat diinterpretasikan dalam berbagai bahasa, berbagai karakteristik, berbagai visualisasi, dan berbagai rasa. Setiap orang dapat memberikan pengartian yang berbeda-beda, namun satu yang pasti.
Manusia perlu MAKAN, bahkan HARUS MAKAN agar dapat bertahan hidup, bukan begitu?
Analogi MAKANAN dan MAKAN inilah yang mengawali hidup merly hari ini. Satu hari yang menjemukan, walau belum dijalani namun langit yang temaram dan kicau burung gagak nampak membuat hari membosankan.
„Haah.. harus sekolah lagi... bosan rasanya...“ demikian ungkap merly di pagi itu.
Belum lagi melangkahkan dirinya ke luar rumah, bahkan ia baru saja sampai di meja makan, setelah sebelumnya harus menyeret-nyeret dirinya, dan mengingatkan bahwa hari ini ia akan menghadapi ulangan matematika. TRIGONOMETRI – tepatnya bahan yang akan diulangankan. Sura tahu betul, meski ia menyukai pelajaran tersebut, ia tak akan mampu mendapat nilai sempurna, yang tidak lain karena guru tersebut, ya – Pak ****** – sosok ajaib, yang memiliki dua karakteristik yang berlainan, namun keduanya sama – MENAKUTKAN. Di satu sisi Ia bisa begitu baik dengan murid, perhatian, sangat keibuan; namun di sisi lain ia bisa begitu kejam, dalam artian tegas dan ketat. Satu saja kesalahan kecil, ya – SATU – bisa membuat seorang anak memendam dendam kesumat sampai ia lulus dari SMA. Hebat bukan? Meski demikian tak bisa dipungkiri, bahwa beliaulah guru yang paling berkompeten dalam hal pengajaran.
Ya, PENGAJARAN, bukan ILMU. Karena semua orang bisa menuntut illmu, namun tidak semua orang bisa mengajar dengan baik. Dan beliau merupakan contoh nyata dimana pengajaran bisa begitu berarti dibanding ilmu itu sendiri.
Kembali ke Merly. Merasa kenal dengan sebutan itu? Memang tren itu suatu hal yang jamak bagi warga perkotaan, betul?
Saat ini ia sedang duduk di meja makan. Donat dunkin yg sngaja di simpandri td mlm dan teh manis. Belum ia rasakan, sudah dapat ia bayangkan apa rasanya donat itu dan teh itu, segala kehangatan, rasa manis, kekentalan teh, wangi daunnya, helai daun-daun teh, bahkan sampai serat-serat donat itu. donat dan teh manis sudah seperti kewajiban bagi merly. Ingin rasanya ia bertanya pada donat itu mengapa ia tidak bosan dimakan olehnya, atau pada teh itu mengapa ia bersedia direbus dalam air panas, hanya untuk diminum olehnya dengan ogah-ogahan. Sayang, dunia bukan khayalan. Maka ia habiskan donat dan teh itu dengan tidak berperasaan. Setelah merasa cukup, ia pun bergegas bersiap diri pergi ke sekolah.
Sampainya di sekolah ia mengamati bahwa beberapa orang temannya sudah tiba. Ada yang tidur, ada yang sedang belajar, dan ada juga yang sudah mulai sms-an dengan pacarnya sepagi itu!
Setelah ia letakkan tas di bangkunya, ia duduk dan merenung, berdiam diri, mencoba mengingat-ingat rumus-rumus yang sudah ia hafalkan semalaman.
Sin x + cos x =...
Cos x + sin x = ...
2 sin x =...
‘Gile, masi inget aja gue,,hehehe,,, pinter juga...’ batinnya dalam hati. Sembari mengingat-ingat, ia mengamati sekeliling kelasnya. Kelas nampak mulai ramai. Ia mengamati teman-temannya satu-persatu.
Ada yang lagi bercengkerama dengan teman dari kelas sebelah.
Ada yang sedang bernyanyi-nyanyi seadanya dengan suara sekelas iwan fals, dalam mode FALS.
Ada yang sedang belajar, mengutak-atik soal-soal di buku, yang jika tidak diamati dekat-dekat tampaknya ia akan memakan buku tersebut.
Ada sekelompok teman yang berkumpul, menyudutkan diri berkelompok, 5-6 orang, berdiskusi, belajar, debat, marah-marahan, gebuk-gebukan, adu mulut, saling tunjuk, tarik-menarik, cakar-cakaran, dan akhirnya kembali belajar; benar-benar kelompok yang aneh namun nyatanya mereka terdiri dari orang-orang yang tentunya memiliki kecerdasan dan ketelatenan lebih dari Merly tentunya.
Ada yang sedang mendengarkan MP3, tampak tak peduli dengan sekitarnya, mencorat-coret gambar di atas kertas, menghapus, menggambar lagi, sampai pada suatu titik ia berhenti. Meletakkan pensil dan penghapus. Melipat tangan. Memejamkan mata, lalu terangguk-angguk, sampai...TIDUR!
Ada yang sedang mengusili teman yang baru saja tertidur itu dengan memfoto dirinya, membuat pose yang aneh-aneh, dan mematikan MP3nya yang membuatnya terbangun.
Ada yang sedang heboh dengan pr-nya, berusaha membujuk rayu si kutu buku yang terkenal akan catatannya yang rapi dan tugas-tugasnya yang selalu selesai dan tepat benar, namun tidak berhasil mendapatkannya, meskipun telah diiming-imingi kencan semalam.
Semuanya terjadi begitu saja pagi itu, di kelas yang aneh tapi nyata itu, dan semuanya selalu berakhir pada waktu yang sama, dan selalu berakhir dengan sama. Saat bel masuk berbunyi. Semua kembali ke tempatnya masing-masing, dan bersiap diri menghadapi pelajaran-pelajaran hari itu dengan baik.
Saat tiba saatnya ulangan, terjadilah seperti apa yang sudah diperkirakan merly. Ulangan tersebut begitu mudah dikerjakan, MUDAH untuk DIKERJAKAN, bukan berarti mudah mendapat nilai bagus, hehe. Namun merly sudah mencoba mengerjakan dengan baik. Meski demikian, saat guru tersebut memberikan beberapa jawaban untuk nomor-nomor yang sulit, tak bisa dipungkiri bahwa ia melupakan beberapa poin kecil. Mungkin tidak akan menjadi masalah bila bukan Pak ****** yang mengajar. Namun kata-katanya sebelum meninggalkan kelas meninggalkan teror yang mendalam, terutama bagi merly.
“Kalau rumus dasarnya tidak ditulis, bapak kurangi poinnya dua ya...” demikian kata-kata tersebut meluncur dengan lancarnya, menggema dan mengiang-ngiang di benak merly sepanjang hari.
Maka ketika pulang, berjalanlah merly dengan lesu menuju parkiran, memikirkan nasib ulangan matematikanya tadi. Di jalan, berusaha melupakan ulangan matematikanya, ia mengamat-amati keadaan sekelilingnya.
Banyak bangunan industri di sisi jalan, membuat sumpek, dan hal ini selalu terjadi. Suatu rutinitas tepatnya. Namun di tengah-tengah rutinitas tersebut ada sesuatu yang janggal. merly melihat di pinggir jln nampak seorang anak kecil sedan mengais-ngais tempat sampah industri yang besar dang berwarna kehijauan itu. Ia nampaknya sedang mencari sesuatu. Mungkin ada yang tertinggal, demikian pikir merly. Namun yang ia lihat membuatnya terperanjat.
Ia melihat anak tersebut mengambil sepotong pisang yang sudah tinggal setengah. Nampaknya pisang tersebut sudah dirubungi lalat. Setelah ia sisihkan lalat-lalat itu, ia lahap juga pisang itu dengan rakusnya.
Pemandangan yang menakjubkan, sekaligus membuat miris perasaan.
Merasa terpanggil, merly menghampiri anak tersebut.
“Dik, nama kamu siapa?”
Anak tersebut menoleh, namun tidak menjawab.
“Belum makan ya? Ini kakak ada uang. Ambil ya, buat makan. Nih.” Ucap merly sambil menyerahkan selembar uang lima ribuan, lalu melangkah meninggalkan anak kecil tersebut.
Di tengah perjalanannya, ia kembali merenung. Ia mengingat betapa anak tersebut mengais-ngais tempat sampah hanya untuk mengambil makanan yang sudah dibuang, bahkan yang sudah dikerubungi lalat. Ia berpikir, bahwa betapa ia tidak menyadari ia begitu beruntung. Setiap harinya ia masih dapat makan, meskipun tadi pagi ia begitu kecewa dan mual melihat donat dan teh. Kejadian tadi membuat dirinya seperti tertampar. Betapa di Edosia ini dapat terjadi hal-hal seperti ini. Dalam jarak 5 meter ada orang yang dapat makan dengan mewahnya di warung yg lumayan bsr, sedang di luar warung tersebut ada orang seperti anak kecil tadi, yang mengais-ngais sampah untuk mengisi perut.
Sungguh, merly bertekad untuk lebih menghargai makanan yang dapat ia makan. Menghargai pemberian orang-tuanya. Menghargai pengorbanan si donat dan daun-daun teh yang setiap harinya merelakan dirinya untuk disantap olehnya. Dan untuk menghormati dan mensyukuri pada Tuhan atas segala anugerahNya pada dirinya.
Walau untuk suatu hal, yang seringkali kurang dihargai oleh kebanyakan orang di luar sana.
Untuk dapat MAKAN...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar