Sudah lama merly menyadari bahwa merly ini memang sedikit (???!!!!)...
Oke, maksudnya agak… (????!!!!)… …
Iyah...iyah...merly rasa merly memang sangat hiperaktif...
Tapi ngga ada yang salah kan dengan itu? Orang-orang hiperaktif itu calon orang sukses, tauk. Seperti Albert Einstein, Gwen Stefani, Madonna, Michael Jackson...kalo mereka ngga pecicilan, ngga mungkin mereka bisa sehebat dan seterkenal sekarang. Ya ngga?
Banyak hal-hal aneh dan memalukan yang terjadi gara-gara sifat merly yang satu ini, yang herannya walau sering kena batunya, tetep aja merly ngga berubah jadi lebih kalem. Kaya gini, nih. Salah satu cerita konyol merly waktu masih duduk di bangku TK...
Jadi, secara merly hiperaktif, waktu TK merly tuh kalo di kelas bawel abis, ga bisa diem di tempat duduk. Kerjaannya ngideeerrrrr ke mane-mane. Kadang kalo udah selesai ngerjain tugas (latihan nulis atau gambar balon gitu deh...) dengan seenak udel merly keluar kelas dan main ayunan tanpa rasa berdosa, padahal bukan jam istirahat apalagi jam pulang.
Terus waktu itu merly seperti biasa abis ngerjain tugas apa gitu (maklum merly termasuk cerdas nyaris jenius berdasarkan hasil tes aikyu, jadi kalo temen-temen merly pada belum selesai mengerjakan tugas, merly malah udah selesai dari tadi. Ngga tahu kenapa pas udah gede begini merly malah jadi bloon).
Terus merly ngider-ngider ngegerecokin temen-temen merly yang lain. Ngajak ngobrol lah, main, atau sekedar merly isengin aja. Akhirnya temen-temen merly malah pada asyik main ma merly, padahal mereka pada belum selesai ngerjain tugas gitu.
Nah, pas lagi asyik-asyiknya merly bersenda gurau (ngegerecokin) bersama teman-teman merly, tiba-tiba.. Ibu Mila, guru kelas merly waktu TK, menghampiri merly dengan senyuman manis dan keibuan. Dia memanggil nama merly dengan lembut, “Onie..”.
“Iyah, Ibu?” merly, nyengir polos.
Tahu-tahu…
SREEEETT…….!!! SLEP!!!
“Nah, jangan berisik, ya…” ujarnya sambil tetap tersenyum manis. Kemudian ia kembali ke mejanya diiringi senyumannya yang keibuan itu.
Iya aja loh, mulut merly ditempelin selotipe sama guru kemerlyngan merly itu. Maksud merly…bener-bener…mulut merly ditempelin selotipe??!!
Dan tertawalah semua teman-teman merly. Dalam hati merly meratap, memaki, merutuk. Merly merasa terhina. Harga diri merly sebagai anak TK yang ceria dan selalu bersemangat telah dihancurleburkan dan diinjak-injak. Merly malu banget…!!!
Oh Ibu Guru… Ibu Guru yang merly anggap seperti nyokap merly sendiri, tega melakukan hal yang mampu merusak perkembangan mental dan kepribadian merly. Tega mempermalukan merly di depan teman-teman merly..
Dan tiba-tiba..terbersit sebuah ide maha kreatif untuk menutupi rasa malu dan terhina yang merly rasakan. Singkatnya, ngeless.
Kemudian, dengan lagak santai dan sok lucu, merly melepas selotipe yang menempel di bibir merly itu. Teman-teman merly menahan napas, mengira merly akan melmerlykan pemberontakan dan perlawanan terhadap Ibu Mila. Tapi tidak..bukan..bukan itu yang akan merly lakukan saudara-saudari. Setelah melepas benda terkutuk itu, merly kembali menempelkannya, tepat di atas bibir merly. Di bawah hidung.
Dan merly nyeletuk dengan girang, “Merly punya kumis!!! Kumis Pak Raden...”
Meledaklah tawa teman-teman merly, terumata si Wildan tuh (wadohhh wildan km skrg dmn???) mungkin mereka benar-benar mengira kalo merly sedang melawak, seperti biasa. Mereka ngga tahu aja, sebenarnya lawakan merly itu adalah sebuah tindakan pengalihan perhatian yang maha jenius untuk menghilangkan rasa malu merly, yang harga dirinya telah diturunkan setara tinggi ayunan di taman bermain TK merly. Mereka benar-benar tertawa karena lawakan merly… bukan karena kejadian barusan!!
Heheheh, untung anak-anak TK itu masih polos-polos. Jadi mereka benar-benar tidak menyadari motivasi lawakan merly yang sebenarnya.
Jadi, hari itu merly telah berhasil menyelamatkan diri merly sendiri dari resiko trauma psikologis yang bisa saja dapat mengubah merly menjadi orang yang pemalu dan introvert serta phobia pada manusia, terutama Ibu Guru- Ibu Guru di seluruh pelosok dunia. Dan itu adalah hasil dari kejeniusan merly. Hehehhehehe…
Belakangan merly tahu, kalo ternyata adegan memalukan itu dilihat oleh nyokap merly dan nyokap-nyokapnya temen-temen merly. Dan para ibu-ibu itu turut mentertawakan tingkah super ajaib merly. Padahal sebernarnya, kalo dipikir-pikir, tingkah merly itu kan merupakan pola perilmerly calon-calon orang jenius. Contohnya seperti Albert Einstein yang waktu kecil sempat disangka idiot, ternyata pas udah dewasa dia malah jadi ilmuwan. Tambahan pula, nyokap merly bilang waktu itu dia sampe pura-pura nggak kenal sama merly saking malunya sama tingkah merly itu. Coba, ya? Adakah nyokap yang setega itu di dunia ini??
Belum lagi yang lebih parah, nyokap merly cerita kalo Ibu Mila sempat konsultasi ke nyokap merly. Beliau curiga merly memang rada idiot atau gila gitu. Bahkan Ibu Mila menyarankan nyokap merly untuk memeriksakan merly ke psikolog anak atau sejenisnya???
Parah banget ngga sih??
Tapi itu membuat merly semakin merasa yakin, ternyata kemiripan merly dengan Albert Einstein itu semakin jelas! Dia dikira rada nggak waras sama orang-orang sekitarnya sebelum akhirnya dia menunjukkan kejeniusannya, sama kayak merly. Ya, kan?
Tinggal menunggu waktu aja sampai kejeniusan merly yang sebenarnya terlihat…
Hhehehehe…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar